Cerdas! Tahu Prabowo Bakal Kalah, Akhirnya Mereka Ingin Pisah dari Kubu Prabowo!



Berdasarkan hasil resmi real count dari KPU, sudah semakin tampak kalau Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno masih kalah telak dari pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin. Perolehan suara yang masuk ke KPU untuk sementara sudah mencapai 59 persen. Jokowi masih unggul dengan memperoleh suara sebanyak 50.736.446 suara atau sekitar 56 persen. Sementara itu, Prabowo yang kalah hanya mendapatkan suara sebanyak 39.876.859 atau sekitar 44 persen.

Melihat tanda-tanda kekalahan Prabowo – Sandi yang sudah semakin nyata. Akhirnya, mereka mengemukakan keinginan mereka untuk pisah dari kubu Prabowo. Pihak yang saya maksud di sini adalah Partai Amanat Nasional (PAN). Melalui Wakil Ketua Umum DPP PAN Bara Hasibuan, mengungkap kalau pihaknya mendukung Prabowo hanya sampai tanggal tertentu saja. Kira-kira sampai tanggal berapa, ya? Kalau mau tahu, baca aja artikel ini sampai habis.

Bara Hasibuan selama ini diketahui sangat gencar menyatakan dukungan kepada pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Joko Widodo - Maruf Amin Sikap politik Bara Hasibuan diketahui berseberangan dengan dukungan Partai PAN. Partai PAN sendiri diketahui masih setia mendukung pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno dalam pemilihan presiden 2019.

Sewaktu ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (30/4) Bara Hasibuan kembali menegaskan dukungan Partai PAN kepada Prabowo – Sandi sudah selesai setelah Pilpres tanggal 17 April 2019. Bara Hasibuan mengatakan kalau setelah itu partainya berhak menentukan sendiri langkah politiknya. Apalagi, beberapa waktu yang lalu Ketua Umum Partai PAN Zulkifli Hasan sudah bertemu dengan Jokowi.

Bara Hasibuan juga menyebut kalau orang yang mendukung Jokowi di Partai PAN bukan hanya dririnya. Baik DPP atau DPD ada yang mendukung Jokowi, seperti yang dari Kepulauan Riau, Maluku, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Selatan sudah terlebih dahulu mendukung Jokowi.

Bahkan mantan Ketua Umum Partai PAN, Soetrisno Bachir secara terbuka mendukung Jokowi. Begitu juga dengan Walikota Bogor, Bima Arya yang juga seorang kader Partai PAN yang diketahui mengadakan acara untuk mendukung Jokowi beberapa hari sebelum hari tenang.

Akan tetapi, kenapa hanya dia saja yang dijadikan target oleh kader dari Partai PAN yang lainnya?

“Jadi, kalau sanksi diberikan kepada saya harus dilihat dulu apakah karena hanya faktor itu atau ada faktor lain. Kalau karena itu saja faktornya, kenapa hanya saya? Tokoh lain yang juga mendukung Jokowi harusnya diberi sanksi atau pemecatan yang sama.”

Hmmm, mungkin kader Partai PAN yang lain itu mengincar posisi Bara Hasibuan. Kita tahu kalau dirinya menduduki jabatan yang lumayan tinggi di Partai Pan, yaitu sebagai Wakil Ketua Umum. Siapa sih, orang yang tidak mau menduduki jabatan tersebut? Apalagi, jika orang tersebut adalah orang yang gila kekuasaan.

Bukan hanya dari kader Partai PAN saja, ada juga survei yang menyatakan bahwa sekitar 30 persen pemilih Partai PAN menyatakan dukungan ke Jokowi. Wow, sebanyak itu pendukung Partai PAN yang mendukung Jokowi, pantas saja Jokowi masih tetap unggul di real count. Alasannya sederhana, yaitu karena ada orang yang mendukung partai koalisi Prabowo di Pileg. Akan tetapi, pada Pilpres, mereka mendukung Jokowi.

Bara Hasibuan kembali menegaskan bahwa komitmen PAN kepada Prabowo-Sandi secara de facto selesai tanggal 17 April 2019. Setelah itu partai berhak menentukan sendiri nasibnya. Begitu juga dengan partai lain yang menurutnya juga sama, seperti PKS. Jika mau menentukan sendiri nasibnya setelah tanggal 17 April 2019, ya itu hak mereka.

Tuh, lihat sendiri, kan? Bara Hasibuan menegaskan kalau dukungan mereka mendukung Prabowo hanya sampai tanggal 17 April 2019 saja. Mungkin setelah melihat tanda-tanda kekalahan Prabowo, Bara Hasibuan ingin lepas dari Prabowo. Sangat cerdas langkah yang diambil oleh Bara Hasibuan. Lebih baik, mendekat dengan Jokowi yang semakin terlihat kemenangannya daripada harus mendukung pihak yang kalah dan teriak-teriak adanya kecurangan. Menurut saya, langkah yang Bara Hasibuan itu sangat cerdas dan cerdik di dunia perpolitikan.

Ya, semoga saja jika benar PAN akan bergabung dengan Jokowi, sebaiknya mereka bisa menyarankan agar Amien Rais dan anaknya, yaitu Hanum Rais bisa diam dan berhenti menuduh adanya kecurangan di Pilpres tahun ini.
loading...

Berita Terkait