Makin Jahanam! Suruh Pilih Prabowo demi Bisa Rampok Cina dan Lakukan Perkosaan Massal?



Makin mendekati 17 April makin jahanam pula yang hasutan yang disebar untuk mendukung Prabowo.

Betapa tidak?



Masak, disuruh milih Prabowo dengan alasan yang amat biadab, yaitu demi bisa melakukan perampokan terhadap rumah Cina serta bebas melakukan perkosaan massal seperti yang terjadi pada tragedi kerusuhan Mei 98?

Dilansir dari TEMPO.CO, Unit Siber Kepolisian RI sedang menyelidiki akun Facebook dengan nama Antonio Banerra.

Pasalnya, dalam sebuah postingannya, akun tersebut mengajak masyarakat memilih calon presiden tertentu agar tragedi kerusuhan Mei 1998 dan kasus perkosaan massal terulang lagi.

Dalam akunnya di media sosial, Antonio mencantumkan pekerjaanya sebagai karyawan Jawa Pos National Network (JPNN), raksasa media yang berbasis di Surabaya.

Ia juga mencantumkan domisilinya di Surabaya serta berasal dari Semarang.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera mengatakan pihaknya sedang mencermati pemilik akun tersebut.

Polisi juga menyelidiki berbagai kemungkinan pada akun itu.

“Tapi yang menyelidiki Siber Mabes Polri, Bro,” kata Frans Barung melalui pesan singkat, Sabtu, 6 April 2019.

Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Jawa Timur Aang Kunaifi mengatakan lembaganya juga telah mengetahui postingan bernada provokatif itu.

Menurut dia, Bawaslu telah membahas masalah itu dengan polisi dan jaksa yang tergabung dalam Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu).

“Sudah kami koordinasikan,” kata dia.

Mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos yang kini menjabat Direktur Radar Jawa Pos, Nur Wahid, mengatakan telah mengecek nama Antonio Banerra di jajaran karyawan JPNN dan semua Grup Jawa Pos namun tidak ada.

“Tadi malam sudah dicek teman-teman, nggak ada (nama itu),” katanya.

Direktur JPNN Auri Jaya juga menegaskan bahwa tak memiliki karyawan bernama Antonio Banerra. JPNN, kata Auri, berencana melaporkan akun itu ke polisi karena merasa dirugikan.

“Kami tidak punya dan tak pernah mempekerjakan orang bernama Antonio Banerra. Sudah kami cek,” kata Auri.

"Itu bukan wartawan dan tidak pernah bekerja di JPNN.com dan kita akan melaporkan dia ke polisi," kata Direktur Jawa Pos National Network (JPNN) Auri Jaya saat dihubungi, Sabtu (6/4/2019).

Auri memastikan tak ada karyawan atas nama Antonio Banerra. Dia berencana untuk melaporkan kasus tersebut pada Senin lusa.

"Nggak ada dan akunnya sekarang sudah hilang dari Facebook," ujar dia.

Dikutip dari situs resminya, JPNN juga menegaskan tidak pernah mempekerjakan pria atas nama Antonio Banerra. Saat ini akun tersebut sudah hilang dari Facebook-nya.

"Akun tersebut mengaku bekerja di JPNN atau Jawa Pos National Network. Dia mengaku tinggal di Kota Surabaya. JPNN tidak pernah atau tidak sedang mempekerjakan pria dengan nama atau wajah seperti di foto akun tersebut," tulisnya.



Bersyukurnya, berdasarkan informasi terbaru yang beredar, Polda Jatim telah menangkap penghasut terulangnya kerusuhan rasial 1998 tersebut.

Seperti dikutip dari detikNews, Polda Jatim menangkap pemilik akun facebook penyebar hoaks, Antonio Banerra. Dalam postingan facebooknya, Antonio mengajak masyarakat memilih salah satu paslon pada Pilpres 2019 dan mengkaitkannya dengan kerusuhan 1998.

Selain itu, Antonio juga menyebarkan hoaks jika tak memilih paslon tersebut, tragedi kerusuhan 1998 dan perkosaan massal kepada etnis Tionghoa akan terulang.

Penangkapan ini terjadi sekitar pukul 18.45 WIB di daerah Buncitan, Sedati, Sidoarjo.

Direskrimsus Polda Jatim Kombes Yusep Gunawan pun membenarkan hal ini.

"Saya sampaikan iya (sudah tertangkap)," kata Yusep saat dihubungi detikcom di Surabaya, Sabtu (6/4/2019).

Dugaan selanjutnya, pihak BPN kemudian akan sibuk melakukan klarifikasi, baik menggunakan SOP standar ‘Itu bukan bagian dari kami!’ yang sudah amat terkenal tersebut, maupun juga akan berlagak pilon, atau malah bersegera menyiapkan bantuan advokasi hukum, sambil sebisa mungkin kembali melontarkan tuduhan busuk, hingga skemanya mungkin akan terlihat menjadi seperti berikut

Pertama, “Itu bukan kami dan bukan bagian dari pendukung kami!”

Kedua, berlagak pilon.

Ketiga, berpura-pura prihatin dan menyesalkan kejadiannya, serta menghimbau dengan kalimat sok bijak.

Keempat, menyalahkan Jokowi meski misalnya dengan alasan yang paling tak masuk akal sekalipun.

Kelima, mulai menyiapkan bantuan advokasi terhadap pelaku.

Keenam, semuanya hilang tertelan kasus baru hoax baru, fitnah baru dan atau hasutan baru.

Benar bahwa dari keenam dugaan tersebut, memang belum tentu semuanya benar, meski juga tak bisa dipastikan semuanya tak salah.

Tapi yang jelas, perbuatan yang dilakukan Antonio benar-benar amat biadab, jahanam, serta patut mendapat hukuman yang seberat-beratnya.

Mau jadi apa negeri ini, jika presiden yang dipilihpun hanya demi bisa melakukan perampokan dan perkosaan massal?

Sungguh cara memenangi pemilu yang biadab serta amat jahanam!

#17AprilJokowiPresiden

#JokowiLagi
loading...

Berita Terkait

Post a Comment

0 Comments